Secangkir kopi telah menjadi duniaku,
di sini aku mencabik-cabik sepi,
mengubahnya menjadi puisi,
sebelum air mata menyiksa mimpi-mimpi.
Di setiap rindu yang menggigil,
sepi menjadi lawanku yang paling sunyi.
Ingin kubunuh ia dengan bait-bait puisi
yang sudah kusimpan di sarung imajinasi.
“Modar kau, sepi!”
Dalam gelap yang masih khusyuk,
aku melilit tubuhnya dengan segala puisiku.
“Modar kau, sepi!”
Kukubur sepi dengan nisan bertuliskan “selamat jalan”.
Aku dan puisi pun bersulang. Menang.
10/12/2013
