Kehilangan

Cinta yang hidup, sajakmu masih hidup.
Begitu hatimu bahagia
atau rindumu sebaliknya, jemputlah ia.
Maka kau akan menemukan
bahwa kesetiaan itu ada.



27/12/2013

Sepasang Doa

Jalinan kata-kata terlalu berharga
untuk saya bentuk menjadi dusta.
Sebab jujur, cinta tak selamanya lara
dan kita sepasang doa yang mengamininya.



27/12/2013

Jubah

Seorang anak berbaring di tanah
dalam sebuah lubang
di sebelah makam ibunya.

Hujan bergulung di atas tubuhnya,
langsung tumpah, hingga derasnya
mengalir di bawah sakitnya.

Lalu ia menghangatkan tubuh
dengan jubah yang diciptanya
dari sulaman derai air mata.



25/12/2013

Sajian Puisi

Kekasih, datanglah ke rumahku.
Ada sajian yang sudah menunggumu,
yang kuramu dengan sedih yang letih,
yang kuseduh dengan rindu mendidih.

Sudah kutuang sejumlah kata-kata
dengan taburan diksi-diksi dan imajinasi.
Ia pun telah kuaduk rata dengan sangat hati-hati
dan itu puisiku yang siap kaunikmati.



11/12/2013

Tersembunyi

I
Banyak puisi tentangmu hinggap di tubuhku.
Tersembunyi.
Tertidur di tengah semak-semak rindu
yang bergoyang-goyang entah berapa lama.

Rentang waktunya tak tereja:
bisa sehari, seminggu, setahun.
Bahkan mungkin bertahun-tahun.
Bisa jadi sejak ditinggal pesona senyummu itu.

II
Puisi-puisi itu tertancap dalam daratan sepi.
Seperti ditanam, yang mungkin yakin
akan tumbuh lebih banyak lagi.

Puisi-puisi itu akan membentang jauh,
di atas dan di seberang kenangan.

Begitu banyak kenangan,
begitu banyak puisi yang hinggap
hingga kamu tak mampu menghitungnya.

III
Aku berjalan di antara puisi-puisi itu.
Semuanya berdiri tenang,
sabar, seperti menunggumu datang.

Setelah tahu kamu tak akan datang,
puisi-puisi itu mulai berkarat,
dengan kata-kata berguguran
dan imajinasi yang disayat
serta bait yang dipotong
untuk dibawa para pemangsa.

Lubang-lubang di berbagai baitnya
tampak menganga bagaikan luka.
Seperti aku yang terkurung
dalam sangkar kehilangan yang nestapa.



24/12/2013

Ingatan Kita Berlarian

Di luar kamar kilau hujan berjatuhan,
angin datang menjelang petang bertandang,
dan daun-daun masih berkisah lewat gugurnya
tentang kita, sebentuk kenangan yang terpisah

Kita duduk pada ingatan mencari sisa-sisa
dengan sebatang masa lalu yang masih tersisa.
Kita melekang dalam kebekuan panggilan panjang
saat mengingat cinta tak memberi jalan pulang.

Kita tangkap gelap yang datang menyergap
untuk diberikan pada butiran hujan
agar ia membawanya kepada masa lalu
yang kita kenang pada sejumput ingatan.

Di luar kamar hujan masih saja berkilauan.
Kaca jendela pucat mencairkan pendarannya.
Pada genangan hujan, bulan tak lagi datang
dan ingatan kita berlarian pada deru berlainan.



22/12/2013

Esok

Esok, aku ingin memberikan cinta
kepada satu nama
yang mencintai Allah juga Rasul-Nya,
dicintai Allah dan Rasul-Nya.
Sebab aku yakin, cintaku ini
akan dianugerahi Dia melalui dia.

Apakah dia adalah kamu?
Adakah dia dalam dirimu?



17/11/2013

Aku Lebih Dahulu

Sebelum kamu memasuki rindu,
biarkan aku masuk lebih dahulu,
memastikan jangan sampai ada sesuatu
yang membahayakan mata dan hatimu.

Setelah segalanya aman,
aku akan persilakan dirimu
untuk memasuki pintu rindu
dan beristirahat dalam kesendirianmu.

Selamat merindu.
Semoga rindu tak menyakiti mata hatimu
dan aku akan senang menjadi rindumu.



17/11/2013

Kasur Kesakitanmu

: Nihayah
Di atas kasur kesakitanmu itu,
nafas-nafas rahasiamu
membekas pada bantal yang pulas.

Di atas kasur kesakitanmu itu,
air jingga dari matamu
menetes dan menjelma butiran rindu.

Di atas kasur kesakitanmu itu,
bayang-bayang tubuhmu
melukis bunga-bunga kegemaranmu.

Di atas kasur kesakitanmu itu,
kulitmu yang layu
beterbangan seperti kupu-kupu.

Di atas kasur kesakitanmu itu,
kuncup matamu mengedipkan doa,
melepas dosa-dosa di ujung hidupmu.



22/07/2013

Nikmat

Di matanya,
aku melihat serbuk-serbuk puisi,
seperti taburan kopi
yang diseduh setiap pagi.


14/10/2013

Pembunuh Sepi

Secangkir kopi telah menjadi duniaku,
di sini aku mencabik-cabik sepi,
mengubahnya menjadi puisi,
sebelum air mata menyiksa mimpi-mimpi.

Di setiap rindu yang menggigil,
sepi menjadi lawanku yang paling sunyi.
Ingin kubunuh ia dengan bait-bait puisi
yang sudah kusimpan di sarung imajinasi.

“Modar kau, sepi!”
Dalam gelap yang masih khusyuk,
aku melilit tubuhnya dengan segala puisiku.

“Modar kau, sepi!”
Kukubur sepi dengan nisan bertuliskan “selamat jalan”.
Aku dan puisi pun bersulang. Menang.



10/12/2013
Back to top