aku tersungkur dalam semesta keheningan
tanpa suara tanpa kata-kata
semesta pun menelan warna-warna
sempoyongan aku menjadi buta
aku sadar ini hanyalah sementara
walau aku tak tahu di mana ujungnya
ku raba semesta hingga ke ujung belantara
ku temukan pusaka, hanya kata-kata
aku sandarkan jiwa yang kian melemah
untuk bermunajat mengadu kepada kata
seperti jiwa yang sedang berkelana
ku arungi kata yang berbentuk pusaka
aku terpana saat mengetahui maknanya
menatap tajam pada sang semesta
berdebar kencang jantung ini rasanya
seakan ingin muntahkan air mata
22/10/2012
Persembahan untuk Orangtuaku
Abah,
sejak aku kecil kau tanamkan
butir Pendidikan di setiap langkah
walau biayanya tak seperti prasangka
katamu, "Agar kau memiliki derajat mulia"
Abah,
mungkin pendapatku sedikit tak sama
memahami derajat mulia dengan beda
ditarik hanya dari Pendidikan semata
namun hal itu aku terima lantaran aku percaya
Abah,
aku percaya bukan pada Pendidikan
aku percaya ucapanmu adalah doa
walau logika tetap tak mau terima
aku akan tetap patuh dan terima
Mimi,
walau kau tak mampu mengenyam Pendidikan
kau adalah ibu yang selalu mengajarkan kesederhanaan
memang aku patuh pada Prof. Dr. Fulan
tapi lebih patuh padamu yang tak lulus Pendidikan
Mimi,
kau ajarkan sebaris kalimat mujarab
yang membawaku memahami musabab
padahal kau tak menjelaskan kata sabab
aku rasakan itu sebagai sabab-musabab
Mimi,
walau kau tak lagi nampak pada mata telanjang
namun ajaranmu akan tetap aku genggam
sebagai baktiku padamu seorang
agar nanti aku memiliki kuburan yang terang
Kalian Orangtuaku,
aku persembahkan untuk kalian
hanya doa yang dapat aku panjatkan
hanya doa yang dapat aku berikan
اللهم اغفر لهما وارحمهما كما ربياني صغيرا
amiiin...
26/10/2012
sejak aku kecil kau tanamkan
butir Pendidikan di setiap langkah
walau biayanya tak seperti prasangka
katamu, "Agar kau memiliki derajat mulia"
Abah,
mungkin pendapatku sedikit tak sama
memahami derajat mulia dengan beda
ditarik hanya dari Pendidikan semata
namun hal itu aku terima lantaran aku percaya
Abah,
aku percaya bukan pada Pendidikan
aku percaya ucapanmu adalah doa
walau logika tetap tak mau terima
aku akan tetap patuh dan terima
Mimi,
walau kau tak mampu mengenyam Pendidikan
kau adalah ibu yang selalu mengajarkan kesederhanaan
memang aku patuh pada Prof. Dr. Fulan
tapi lebih patuh padamu yang tak lulus Pendidikan
Mimi,
kau ajarkan sebaris kalimat mujarab
yang membawaku memahami musabab
padahal kau tak menjelaskan kata sabab
aku rasakan itu sebagai sabab-musabab
Mimi,
walau kau tak lagi nampak pada mata telanjang
namun ajaranmu akan tetap aku genggam
sebagai baktiku padamu seorang
agar nanti aku memiliki kuburan yang terang
Kalian Orangtuaku,
aku persembahkan untuk kalian
hanya doa yang dapat aku panjatkan
hanya doa yang dapat aku berikan
اللهم اغفر لهما وارحمهما كما ربياني صغيرا
amiiin...
26/10/2012
Maaf, Aku Sudah Menyayangimu
Sudah lama hati ini membeku
bagai cairan yang mengeras seperti batu.
Saat hati ini mengenal kamu
mencair seolah siap untuk diramu.
Aku bertanya-tanya seperti orang dungu
Apakah kamu tahu isi hatiku?
Apakah aku bisa memilikimu?
Apa kamu mau menjadi bagian hatiku?
Diam,
jangan kamu bicara dulu
Aku tak mau kamu terganggu.
Sudah,
jangan hiraukan ucapanku,
bila kamu anggap ini sebagai guyon si dungu
Aku hanya ingin kamu tahu itu
agar aku tenang berada di hatimu
bila mau ataupun segan menjadi satu,
bersikaplah dan jaga bicaramu
Maaf, aku sudah menyayangimu.
Maafkan aku bila hati ingin memilikimu.
Aku tak bisa menahan hasrat yang sedang tumbuh.
Bila ditahan, sakitnya menembus paru-paru.
Entah mengapa aku takut kehilanganmu.
Entahlah, mengapa aku ingin memilikimu.
Entah mengapa aku tak sanggup menahan hasratku.
Entah pula mengapa aku begitu menyayangimu.
Maaf, aku sudah menyayangimu...
15/10/2012
bagai cairan yang mengeras seperti batu.
Saat hati ini mengenal kamu
mencair seolah siap untuk diramu.
Aku bertanya-tanya seperti orang dungu
Apakah kamu tahu isi hatiku?
Apakah aku bisa memilikimu?
Apa kamu mau menjadi bagian hatiku?
Diam,
jangan kamu bicara dulu
Aku tak mau kamu terganggu.
Sudah,
jangan hiraukan ucapanku,
bila kamu anggap ini sebagai guyon si dungu
Aku hanya ingin kamu tahu itu
agar aku tenang berada di hatimu
bila mau ataupun segan menjadi satu,
bersikaplah dan jaga bicaramu
Maaf, aku sudah menyayangimu.
Maafkan aku bila hati ingin memilikimu.
Aku tak bisa menahan hasrat yang sedang tumbuh.
Bila ditahan, sakitnya menembus paru-paru.
Entah mengapa aku takut kehilanganmu.
Entahlah, mengapa aku ingin memilikimu.
Entah mengapa aku tak sanggup menahan hasratku.
Entah pula mengapa aku begitu menyayangimu.
Maaf, aku sudah menyayangimu...
15/10/2012
Dalam Sebuah Cerita
Walau dalam kata, aku senang
Saat jemarimu mengukir angan
Walau dalam sebuah cerita, kamu terkenang
Saat lidahmu membisik dalam malam
Janganlah diam saat kamu tenggelam
Bicaralah agar aku tetap paham
Jauhkan diri kita dari salah paham
Menarik makna yang membuat kita muram
Aku tak tahu kamu seperti apa
Seperti bunga ataukah seperti senja
Tapi aku tahu kamu sekarang di mana
Nanti kamu akan tahu jawabannya
Aku ingin kita saling mendekat
Saling mengingat,
dan saling mengikat
Walau nyatanya sulit untuk kita dapat
Namun, apa salahnya kita coba perbuat
06/10/2012
Saat jemarimu mengukir angan
Walau dalam sebuah cerita, kamu terkenang
Saat lidahmu membisik dalam malam
Janganlah diam saat kamu tenggelam
Bicaralah agar aku tetap paham
Jauhkan diri kita dari salah paham
Menarik makna yang membuat kita muram
Aku tak tahu kamu seperti apa
Seperti bunga ataukah seperti senja
Tapi aku tahu kamu sekarang di mana
Nanti kamu akan tahu jawabannya
Aku ingin kita saling mendekat
Saling mengingat,
dan saling mengikat
Walau nyatanya sulit untuk kita dapat
Namun, apa salahnya kita coba perbuat
06/10/2012
Subscribe to:
Comments (Atom)
