Di ujung kecantikan yang kau simpulkan
di balik kain putih bertanda kemaksuman
aku melihat kesunyian yang ramai pengandaian
menenggelamkan keramaian yang sunyi perhatian
melihatmu dekat tak seindah melihatmu jauh
sehingga mata-mataku tak bosan menggemuruh
melayangkan pandang di setiap sudut wajahmu
yang sudah menaburkan serpihan-serpihan salju
meski tak sedikit mata yang menjadi pengamat
tak jarang mataku yang tajam menapakimu berkuat
kesadaran pun akhirnya menggilas semangat
yang mulai tumbuh dan mulai terpikat
Aku mohon sadarkan aku dari kesadaranku
biarkan aku menyeberangi sunyi-sunyimu
itu sudah memicuku agar aku tetap tumbuh
sebagai penyair dalam pematang keramaianmu
18/05/2013
Butiran Pasir
Hamparan pasir kini yang terlihat di pelupuk mata
Hijau semakin kokoh menjadi sosok keindahan
Bening semakin kuat sebagai simbol kesejukan
Butiran pasir berhamburan panik di ubun kepala
menghindari, lalu melawan semburan bola api
tak sedikit yang mengusik pikiran untuk ditinggali
Pasir-pasir itu aku rasakan bagaikan duri
tanjamnya mampu merobek jantung dan hati
hingga tak lagi berdegup, tak lagi berkasih
Keringat dengan derasnya memaki pori-pori
Mata pun akhirnya buta tak ada cahaya
muntahkan air mata, mengingat yang sudah-sudah
Kini pasir kukuh merobohkan sesosok tubuh
tak peduli dengan kesakitan menjadi pembunuh
yang penting mereka manapaki tempat baru untuk berteduh
Pasir pun mulai menjerit, menjerat segumpal paru-paru
Kembang-kempisnya kini tertahan pelan-pelan
Jantung dan hati pada gilirannya akan runtuh
Tangan hanya mampu menepuk-nepuk dada
memancing nafas yang bekerja tak berjarak
dan kaki hanya dapat menahan tubuh yang rusak
Wajah yang sudah mulai bernoda kepucatan
melongok ke atas dengan mulut menganga, bertanya
di mana air cinta yang mampu meneguk sejarah?
17/05/2013
Hijau semakin kokoh menjadi sosok keindahan
Bening semakin kuat sebagai simbol kesejukan
Butiran pasir berhamburan panik di ubun kepala
menghindari, lalu melawan semburan bola api
tak sedikit yang mengusik pikiran untuk ditinggali
Pasir-pasir itu aku rasakan bagaikan duri
tanjamnya mampu merobek jantung dan hati
hingga tak lagi berdegup, tak lagi berkasih
Keringat dengan derasnya memaki pori-pori
Mata pun akhirnya buta tak ada cahaya
muntahkan air mata, mengingat yang sudah-sudah
Kini pasir kukuh merobohkan sesosok tubuh
tak peduli dengan kesakitan menjadi pembunuh
yang penting mereka manapaki tempat baru untuk berteduh
Pasir pun mulai menjerit, menjerat segumpal paru-paru
Kembang-kempisnya kini tertahan pelan-pelan
Jantung dan hati pada gilirannya akan runtuh
Tangan hanya mampu menepuk-nepuk dada
memancing nafas yang bekerja tak berjarak
dan kaki hanya dapat menahan tubuh yang rusak
Wajah yang sudah mulai bernoda kepucatan
melongok ke atas dengan mulut menganga, bertanya
di mana air cinta yang mampu meneguk sejarah?
17/05/2013
Puisi Ah!
Ah!
Rasa malumu mengubah hati menjadi kolokasi
Tanpa hatimu, hatiku hanya menelan makna biasa
Kehadiran hatimu justru membawa hatiku berubah indah
Bisa menjadi bunga; bisa juga menjadi cahaya
Ah!
Rasa malumu membawa hatiku kepada medan makna
Denotasi dan konotasi berebut ingin meraja
Sinonim dan akronim pun sungguh sama murkanya
Bergegas menyusup dari sela-sela rasa
Ah!
Rasa malumu mengingatkan aku saat menerjemah
Ujungnya hanya menggumamkan kata dan makna
Mencari-cari mana yang sepadan agar berterima
Cinta atau duka yang masuk dalam suasana
Ah!
Memang gaya formal tak bisa diajak kerja sama
Mengoyak makna tetap saja sama juga
Namun gaya dinamis pun tak kunjung terbuka
Lalu, dengan gaya apa agar hatiku bisa berterima?
18/03/2013
Rasa malumu mengubah hati menjadi kolokasi
Tanpa hatimu, hatiku hanya menelan makna biasa
Kehadiran hatimu justru membawa hatiku berubah indah
Bisa menjadi bunga; bisa juga menjadi cahaya
Ah!
Rasa malumu membawa hatiku kepada medan makna
Denotasi dan konotasi berebut ingin meraja
Sinonim dan akronim pun sungguh sama murkanya
Bergegas menyusup dari sela-sela rasa
Ah!
Rasa malumu mengingatkan aku saat menerjemah
Ujungnya hanya menggumamkan kata dan makna
Mencari-cari mana yang sepadan agar berterima
Cinta atau duka yang masuk dalam suasana
Ah!
Memang gaya formal tak bisa diajak kerja sama
Mengoyak makna tetap saja sama juga
Namun gaya dinamis pun tak kunjung terbuka
Lalu, dengan gaya apa agar hatiku bisa berterima?
18/03/2013
Atas Nama Kerinduan
Malam itu gerak-gerikku diawasi bulan
Melalui matanya yang melihatku segan
Itu adalah tanda yang kian menakutiku tajam
Jangan-jangan bulan pun tahu aku memeluk kerinduan
Aku pun berbisik kepada malam, kepada bulan
Aku sedang merindukan apa yang aku rindukan
Sedang yang aku rindukan lenyap dalam kenangan
Ia pun mati dalam jurang jawaban suram
Bulan hanya diam menatapku dalam
Menaburkan kilatan yang menyelimuti angan
Seolah memberi ramuan-ramuan pengobatan
Merangsang saraf-saraf yang mulai tak beraturan
Benar. Bulan tahu apa yang aku rasakan
Ramuannya menyelinap dalam sel kerinduan
Mengajari denyut nadi yang kian melamban
Agar terbangun dan kembali menakutkan
Di atas tanah kuukir atas nama kerinduan
Kuukir atas nama kebodohan
Kuukir atas nama kesombongan
“Cintaku mengalir ayat Tuhan”
17/05/2013
Melalui matanya yang melihatku segan
Itu adalah tanda yang kian menakutiku tajam
Jangan-jangan bulan pun tahu aku memeluk kerinduan
Aku pun berbisik kepada malam, kepada bulan
Aku sedang merindukan apa yang aku rindukan
Sedang yang aku rindukan lenyap dalam kenangan
Ia pun mati dalam jurang jawaban suram
Bulan hanya diam menatapku dalam
Menaburkan kilatan yang menyelimuti angan
Seolah memberi ramuan-ramuan pengobatan
Merangsang saraf-saraf yang mulai tak beraturan
Benar. Bulan tahu apa yang aku rasakan
Ramuannya menyelinap dalam sel kerinduan
Mengajari denyut nadi yang kian melamban
Agar terbangun dan kembali menakutkan
Di atas tanah kuukir atas nama kerinduan
Kuukir atas nama kebodohan
Kuukir atas nama kesombongan
“Cintaku mengalir ayat Tuhan”
17/05/2013
Subscribe to:
Comments (Atom)
