Butiran Pasir

Hamparan pasir kini yang terlihat di pelupuk mata
Hijau semakin kokoh menjadi sosok keindahan
Bening semakin kuat sebagai simbol kesejukan

Butiran pasir berhamburan panik di ubun kepala
menghindari, lalu melawan semburan bola api
tak sedikit yang mengusik pikiran untuk ditinggali

Pasir-pasir itu aku rasakan bagaikan duri
tanjamnya mampu merobek jantung dan hati
hingga tak lagi berdegup, tak lagi berkasih

Keringat dengan derasnya memaki pori-pori
Mata pun akhirnya buta tak ada cahaya
muntahkan air mata, mengingat yang sudah-sudah

Kini pasir kukuh merobohkan sesosok tubuh
tak peduli dengan kesakitan menjadi pembunuh
yang penting mereka manapaki tempat baru untuk berteduh

Pasir pun mulai menjerit, menjerat segumpal paru-paru
Kembang-kempisnya kini tertahan pelan-pelan
Jantung dan hati pada gilirannya akan runtuh

Tangan hanya mampu menepuk-nepuk dada
memancing nafas yang bekerja tak berjarak
dan kaki hanya dapat menahan tubuh yang rusak

Wajah yang sudah mulai bernoda kepucatan
melongok ke atas dengan mulut menganga, bertanya
di mana air cinta yang mampu meneguk sejarah?



17/05/2013
Back to top