Tersembunyi

I
Banyak puisi tentangmu hinggap di tubuhku.
Tersembunyi.
Tertidur di tengah semak-semak rindu
yang bergoyang-goyang entah berapa lama.

Rentang waktunya tak tereja:
bisa sehari, seminggu, setahun.
Bahkan mungkin bertahun-tahun.
Bisa jadi sejak ditinggal pesona senyummu itu.

II
Puisi-puisi itu tertancap dalam daratan sepi.
Seperti ditanam, yang mungkin yakin
akan tumbuh lebih banyak lagi.

Puisi-puisi itu akan membentang jauh,
di atas dan di seberang kenangan.

Begitu banyak kenangan,
begitu banyak puisi yang hinggap
hingga kamu tak mampu menghitungnya.

III
Aku berjalan di antara puisi-puisi itu.
Semuanya berdiri tenang,
sabar, seperti menunggumu datang.

Setelah tahu kamu tak akan datang,
puisi-puisi itu mulai berkarat,
dengan kata-kata berguguran
dan imajinasi yang disayat
serta bait yang dipotong
untuk dibawa para pemangsa.

Lubang-lubang di berbagai baitnya
tampak menganga bagaikan luka.
Seperti aku yang terkurung
dalam sangkar kehilangan yang nestapa.



24/12/2013
Back to top