Jari Manis

Malu-malu aku menulismu
dengan jari yang masih lugu
pada ujungnya senyummu berlalu.

Tinta pena tak mau nyata
ia kecewa pada kata-kata
yang sedikit lalu seolah
menjadi luka.

Seperti malam yang kian masam,
aku melipat penat yang pucat,
bersama kalimat yang sekarat.

Baiklah aku akan menulismu
meski ajal kian memejal
yang membuatku terpintal-pintal
dalam hujan yang lama kelam.

Siapa namamu atau bagaimana rupamu
itu bukanlah menjadi soal
asal kamu paham akan muasal
dan bagaimana kamu kembali kekal.

Ialah kamu sudah kutulis
tapi tangis semakin gerimis
menitis pada ujung jari manis.



22/06/2014
Back to top